Teater Simpang SMASA

teater2

Teater Simpang adalah sebuah komunitas teater di SMA Negeri 1 Pasuruan yang lahir 27 Juli 2009 lalu. Kelahiran dari Teater Simpang adalah suatu inovasi dan tuntutan yang bertumpu dari suatu perwujudan kesadaran akan makna sebuah ekspresi seni gerak dan keindahan oleh pelatih sekaligus pendiri Teater Simpang ini sendiri, Mas Wahyu Setiadi. Hal ini merupakan inovasi akan tuntutan untuk tetap  memelihara estetika seni yang mulai ditinggalkan oleh kaum muda bangsa.

Bermodal jargon atau semboyan dari Teater Simpang sendiri “Budaya takkan goyah, walau peluh luka bercampur darah. SMA Negeri 1 Pasuruan – Indonesia. Bersatu, berkarya, dari jalan yang berbeda. Teater Simpang”. Dengan bermodalkan jargon teater simpang lahir untuk menyatukan para muda dengan semangat berkaryanya walau dari jalan yang berbeda – beda berkumpul disebuah persimpangan untuk satu tujuan yang sama, yaitu “satu impian menuju panggung”. Satu impian menuju panggung, bukan hanya sekerdar panggung biasa. Melainkan panggung yang dapat menggebrak mental dan pikiran kita akan masalah sosial, politik, dll. Impian Teater Simpang sendirilah yang diharpakan mampu untuk melahirkan kader – kader penopang dan pembangunan seni local di Kota Pasuruan ataupun di seluruh Indonesia.

teater1

Komunitas Seni Teater “Simpang” yang merupakan suatu komunitas seni di SMA Negeri 1 Pasuruan yang menampung para siswa – siswi yang memiliki jiwa semangat berkarya, yang tak lepas dari peran generasi muda dalam membangun bangsa sekaligus sebagai pelopor perjuangan bangsa Indonesia dalam kemajuannya. Dengan mengusung nama “Simpang” sendiri merupakan perwujudan dari semangat para muda siswa – siswi SMA Negeri 1 Pasuruan untuk terus berkarya menuju panggung impian. Selain itu pula tujuan berdirinya Teater Simpang bukan hanya ajang untuk meraih gemerlap panggung melainkan juga untuk membentuk kaum pelajar dan akademis yang mampu memajukan kesenian daerah maupun dalam kancah nasional.

Kegiatan – kegiatan komunitas Seni Teater “Simpang” diantaranya adalah : Pembangunan karakter, peguatan potensi, Teater Jalan, Teater panggung, kegiatan rutin setiap minggunya. Keanggotaannya pun sekarang telah menghimpun sekitar 30 siswa – siswi si SMA Negeri 1 Pasuruan, digenerasinya yang ke – 7. Diketuai oleh Gibran Aji Basutikno.

Dalam perkembangannya selama 7 generasi, Teater Simpah telah memperoleh banyak sekali pencapaian. Dengan target setiap tahunnya mengikuti berbagai macam festival. Dalam kancahnya di dunia perteateran, Teater Simpang sendiri telah meraih beberapa penghargaan diantaranya sebagai “Sutradara Terbaik” dengan naskah Saksi Mata dalam ajang festival teater antar pelajar dalam rangka Pekan Bulan Bahasa dan Sastra di Universitas Negeri Malang tahun 2013, selain itu tahun ini Teater Simpang memperoleh penghargaan sebagai “Juara 2 Se-Jawa Timur” dalam ajang Sangcek Teater Festival dengan nsakah SETTTAN UNAS yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Gresik bulan maret lalu juga memegang nominasi “Sutradara Terbaik”. Dalam kiprahnya, dalam ajang Sangcek Teater Festival ini naskah SETTTAN UNAS sendiri menjadi gebrakan dan trending topic seluruh Gresik karena pesan moral yang diusung dalam naskah itu sendiri. Selain penghargaan diatas, pelatih kita sekaligus mentor kita sendiri berserta alumnus dari teater simpang sendiri banyak yang mendapatkan prestasi baik sebagai sutradara, actor, aktris terbaik, bahkan prestasi panggung hingga ke Manchester.

Dengan ciri khas penampilannya yang selalu menyuguhkan pertunjukan teater “Kontemporer”. Teater Simpang selalu menyuguhkan naskah pertunjukan yang ringan, penuh jenaka, namun dengan bobot pesan moral yang mampu menggebrak kesadaran dan mindset seseorang tentang keadaan social saal ini. Dengan pemilihan naskah yang berbobot membuat teater simpang sendiri menjadi teater yang bukan hanya teater panggung yang mengejar ketenaran semata. Seperti semboyan kami “Teater itu beda dengan topeng monyet. Sama – sama sebuah pertunjukan dan sama – sama mendapatkan tepuk tangan penonton, namun topeng monyet setelah mendapatkan tepuk tangan, penonton terhibur kemudian penonton melupakan. Sedangkan dalam teater, kita harus memberikan jentikan yang selalu melekat dalam pikiran dan hati penonton untuk selalu diingat.”